baca baca buat obat bosen
jilid sebelumnya
Abdi Kinasih
“YA“ MAHISA BUNGALAN mengangguk-angguk “tetapi apakah ada kesempatan paman untuk memberitahukan hal itu kepada kami?”
Jilid “Aku tentu tidak akan membiarkan segalanya terjadi tanpa dapat terbuat sesuatu. Aku akan melihat gelagat dan perkembangan keadaan” jawab Mahisa Agni.
Witantra dan Mahisa Bungalan kemudian tidak dapat berbuat lain kecuali menyetujui rencana Mahisa Agni untuk menghambakan diri kepada Pangeran Kuda Padmadata, apabila permohonannya dapat dikabulkan.
Di hari berikutnya, Mahisa Agni kembali mengkuti Ki Daredu ke padang rumput untuk menyabit, sekaligus untuk menemui pemelihara kuda Pangeran Kuda Padmadata.
“Ha, kau Ki Daredu“ sapa pemelihara kuda itu.
Ki Daredapun mendekatinya sambil bertanya “Bagaimana? Apakah kau sudah ketemu dengan Ki Jurasanta?“
“Aku sudah menemuinya, la tidak berkeberatan” jawab pemelihara kuda itu. Lalu “Pekatik itulah yang merasa keberatan. Ia mempunyai seorang kawan yang dapat membantunya. Tetapi karena Ki Jurasanta sudah menyetujuinya, maka pekatik itu tidak dapat menolaknya lagi“
“Apakah ia berkeberatan?“ bertanya Mahisa Agni “jika kehadiranku dapat menggangu, maka aku tidak dapat melakukannya lebih jauh meskipun aku sangat memerlukan pekerjaan itu”
“Tidak” jawab pemelihara kuda itu “aku sudah mengatakan kepadanya bahwa ada dua ekor kuda dan kemudian akan datang lagi seekor kuda yang lebih baik lagi ke dalam kandang kuda Pangeran Kuda Padmadata, sehingga ia memang memerlukan kawan. Daripada memanggil kawannya yang belum pasti bersedia, maka lebih baik menerima saudaramu yang sudah menyatakan dirinya untuk mengabdikan diri”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya “Tetapi apakah dengan demikian tidak akan menimbulkan persoalalan di kemudian hari?“
“Tidak. Anak itu sudah dapat mengerti setelah aku jelaskan kepadanya” jawab pemelihara kura itu.
“Sukurlah” desis Mahisa Agni “jika demikian keluargaku akan merasa sangat senang”
“Kau dapat bekerja sejak besok” berkata pemelihara kuda itu “jika kau tidak berkeberatan, ikutilah aku sekarang menemui Ki Jurasanta. Kau akan mendapat penjelasan. Apakah kau akan tinggal di dalam atau kau akan tinggal pada Ki Daredu”
“O“ Mahisa Agni mengangguk-angguk “jika aku memang harus menghadap, aku akan datang”
Ki Daredu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam, ketia ia melihat Mahisa Agni kemudian mengikuti pemelihara kuda itu pergi ke istana Pangeran Kuda Padmadata.
“Aku tidak mengeti, apakah yang sebenarnya yang dilakukannya” desis Ki Daredu.
Dalam pada itu, maka Mahisa Agnipun mengikuti pemelihara kuda itu memasuki regol istana yang besar dari seorang Pangeran yang kaya raya bersama pemelihara kuda itu. Demikiun kaki Mahisa Agni menginjak halaman dalam regol. ia sudah merasa beberapa pasang mata mengikutinya. Diantaranya adalah pekatik muda yang masih belum trampil menyabit rumput itu.
“Aku memang harus berhati-hati” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.
Ketika ia kemudian dihadapkan kepada Ki Jurasanta. maka Mahisa Agnipun telah merubah dirinya, benar-benar seperti seorang petani miskin. Sikapnya, kata- katanya dan kedunguannya.
“Jadi kau benar-benar ingin bekerja disini?” bertanya Ki Jurasanta.
“Ya Ki Jurasanta. Aku memang memerlukan pekerjaan. Aku senang sekali apabila aku dapat bekerja di sini”
Ki Jurasanta mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Agni meneruskan keterangannya “Aku berada di rumah kakang Daredu. Jika aku diperkenankan aku akan tetap berada di rumahnya, sementara siang hari aku berada disini. Menyabit dan membantu apa saja dalam hubungannya dengan kuda-kuda itu”
“Apakah kau dapat naik kuda?” bertanya Ki Jurasanta.
“Aku pernah melakukannya ketika aku tinggal bersama pamanku dahulu. Tetapi ketika pamanku meninggal, aku tidak lagi pernah mencobanya”
“O, jadi kau pernah juga memelihara kuda di rumah pamanmu?“ bertanya Ki Jurasanta.
“Aku membantunya memandikan kuda, menyabit rumput dan menyisir surinya. Bahkan aku pernah digigit lenganku oleh kuda pamanku“ Mahisa Agni menjelaskan. Ki Jurasanta tersenyum. Nampaknya ia senang melihat sikap dan kata-kata Mahisa Agni yang nampaknya sangat terbuka dan tanpa ulasan apapun juga.
Katanya kemudian “Baiklah. Kau dapat segera bekerja di sini. Siapa namamu?“
“Damar” jawab Mahisa Agni.
Ki jurasanta mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Sekarang kau boleh pulang. Besok pagi-pagi kau datang kemari. Kau akan mendapat keranjang dan sebuah sabit yang baik. Kau akan menyabit rumput bersama pekatik muda itu. Tetapi agaknya ia belum begitu pandai, namun ia rajin dan berkemauan untuk belajar. Karena itu, ajari saja anak itu agar ia segera dapat mengurangi pekerjaanmu”
“Baiklah Ki Jurasanta“ jawab Mahisa Agni “aku akan mencobanya jika ia bersedia. Tetapi jika ia tidak bersedia, aku tidak akan memaksanya”
“Ia adalah anak yang baik. Tentu ia tidak akan berkeberatan. Cobalah besok membantunya. Selama ini pemelihara kuda itu sendirilah yang turun ke padang rumput dan mengajarinya. Tetapi jika ada orang lain, maka ia akan tetap berada di dekat kandang saja tanpa meninggalkan binatang peliharaannya”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia bertanya “Tetapi, apakah kehadiranku di sini tidak akan membuat Pangeran Kuda Padmadata menjadi murka, karena Pangeran itu belum pernah mengenal aku”
Pangeran itu tidak banyak mengenal hamba-hambanya secara langsung. Tetapi Pangeran mempunyai beberapa orang kepercayaan. Tentang binatang peliharaan, Pangeran telah mempercayakan kepadaku. Sejak seekor burung peranjak di kandang yang berwarna merah dan kuning keemasan itu, sampai kepada kuda-kudanya yang tegar. Bahkan jika ada seekor harimau yang belum mendapat makannya, maka Pangeran akan menegurku” jawab Ki Jurusanta
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya lagi “Apakah Ki Jurasanta sudah lama mengabdi kepada Pangeran Kuda Padmadata?“
Ki Jurasanta tertawa. Katanya “Aku mengabdi di sini sejak ayahanda Pangeran Kuda Padmadata masih tinggal di sini”
Mahisa Agni masih mengangguk-angguk. Katanya “Sudah lama sekali. Dengan demikian, Pangeran sudah mengenalmu sebaik-baiknya”
“Ya. Karena itu aku mendapat kepercayaan pada salah satu segi kegemaran Pangeran”
“Dengan demikian ada beberapa orang yang berkedudukan seperti Kijurasanta dalam bidang-bidang yang lain di sini?“ bertanya Mahisa Agni kemudian.
“Sudah tentu. Ada orang yang menjadi manggala pada pasukan pengawal. Di istana ini ada sekelompok pengawal. Ada pula yang memimpin sekelompok hamba dalam yang mongatur segala sesuatu dalam istana itu, sampai kepada makan dan minum Pangeran”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Ia tidak bertanya lebih banyak lagi agar tidak menumbuhkan kecurigaan peda Ki Jurusanta yang baru saja mengenalnya. Tetapi bahwa ia sudah diperkenankan bekerja di tempat itu, maka sebagian dari tugasnya sudah dapat dilakukan dengan baik.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Agnipun minta diri untuk kembali ke rumah Ki Daredu. Di keesokan harinya ia akan kembali untuk mulai dengan pekerjaannya. Dengan langkah ringan Mahisa Agni meninggalkan istana Pangeran Kuda Padmadata. Ia tidak akan menjadi bingung untuk menemukan kembali jalan menuju ke rumah Ki Daredu, karena ia sudah mengenal jalan di Kediri sebaik-baiknya.
Namun, ketika terasa sesuatu menyentuh firasatnya, maka iapun berpaling. Dilihatnya dua orang berjalan mengikutinya pada jarak yang tidak terlalu jauh. Salah seorang dari keduanya adalah pekatik muda yang akan dibantunya belajar menyabit rumput.
Dada Mahisa Agni berdesir. Tetapi ia tidak berbuat sesuatu. Ia berjalan saja seperti tidak ada prasangka apapun juga, meskipun ia menjadi berhati-hati. Ketika ia sampai di tempat yang terbuka, maka tiba-tiba saja pekatik muda itu memanggilnya “Ki Sanak. Berhentilah sebentar”
Mahisa Agni menjadi berdebar. Tetapi iapun berhenti pula. Bahkan sambil tersenyum-senyum ia menyapa “Kaukah pekatik muda itu? Aku mendapat tugas untuk mengajarimu besok”
Pekatik itu sudah berada selangkah di hadapannya. Sambil berdiri bertolak pinggang ia bertanya “Kenapa kau bekerja pada Pangeran Kuda Padmadata?“
“Kenapa?“ Mahisa Agni mengulang. Tetapi iapun tertawa sambil berkata. Kau bergurau. Aku sudah mencari pekerjaan di mana-mana. Sejak aku meninggalkan kampung halamanku. Tetapi baru kali ini aku mendapat pekerjaan setelah sekian lama aku membebani kakang Daredu”
“Kau sudah tua” berkata pekatik muda itu “tetapi nampaknya tubuhnya masih kuat”
“O tentu anak muda. Aku masih kuat. Aku masih mampu menjinjing keranjang penuh dengan rumput yang hijau basah. Kau tidak percaya?“
Pekatik muda itu tertawa. Namun suara Mahisa Agni terputus ketika tiba-tiba saja anak muda itu memegang rambutnya dan kemudian merengutnya “kau keras kepala”
Mahisa Agni terkejut Iapun kemudian bergeser surut. Dengan wajah ketakutan ia berkata “Apa salahku anak muda”
“Kau tidak bersalah. Tetapi kau harus mengetahui, bahwa kau adalah hamba yang paling hina di istana Pangeran Kuda Padmadata. Kau tidak boleh berbuat sesuatu yang dapat menyakiti hatiku dan apalagi membuat aku marah”
“Ya, ya. Aku tidak akan berbuat apa-apa kecuali menyabit rumput. Aku akan membantumu, mengajarimu dan bekerja sebaik-baiknya agar aku mendapat upah yang cukup untuk makan sehari-hari”
Anak muda itu menyentuh dahi Mahisa Agni dengan jari-jarinya sambil berkata “Hati-hatilah bekerja di Istana itu. Kau harus tunduk kepada perintahku”
Mahisa Agni memandang anak muda itu dengan wajah yang tegang dan ketakutan. Selangkah lagi ia mundur. Dengan suara gemetar ia berkata “Aku tentu akan menurut segala perintahmu. He, tetapi bukankah ada Ki Jurasanta”
Tiba-tiba anak muda itu sekali lagi meremas rambut Mahisa Agni sambil berkata “Katakan sekali lagi. Aku akun mengupas wajahmu dengan batu”
“Tidak. Tidak“ Mahisa Agni menjadi semakin ketakutan “kau harus tunduk kepadaku. Jika kau berani mengatakan hal ini kepada Ki jurasanta, maka kau tidak akan melihat matahari di keesokan harinya. Mengerti?“
“Ya, ya. Aku mengerti” jawab Mahisa Agni.
“Semua orang harus tunduk kepadaku” berkata anak muda itu “pada suatu saat Ki Jurasanta pun akan tunduk kepadaku”
Mahisa Agni mongungguk-ungguk. Ia tidak berani ber kata sesuatu lagi.
“Pergilah” bentak anak muda itu “tetapi ingatlah. Ki Jurasanta hanya berkuasa dalam lingkungan istana itu saja. Tetapi aku berkuasa atas orang-orang yang aku kehendaki dimanapun juga ia berada, dan aku kuasa untuk mencabut jiwanya, siapapun yang tidak aku sukai”
“Jangan, jangan minta Mahisu Agni.
“Ingat-lngatlah” berkata anak muda itu sambil mendorong Mahisa Agni sehingga Mahisa Agni itu terjatuh karenanya.
Dengan tergesa-gesa Mahisa Agnipun meninggalkan anak muda itu dengan ketakutan. Namun beberapa langkah kemudian, ketika ia sudah membelakanginya, maka iapun menarik nafas dalam-dalam.
“Aku sudah mengira” berkata Mahisa Agni kepada diri sendiri” anak itu tentu bukan pekatik seperti kebanyakan pekatik. Ia di tempatkan oleh seseorang yang dengan ketatnya mengawasi isi istana itu. Hamba-hambanya dan orang-orang yang berhubungan dengan para hamba di sini. ia menakut-nakuti orang-orang yang berhubungan dengan isi istana itu, agar tidak seorangpun yang berani berbuat sesuatu diluar pengetahuan mereka”
Dengan demikian, maka Mahisa Agni mengetahui sebagian dari keadaan istana itu. Orang yang berkepentingan dengan warisan Pangeran Kuda Padmadata agaknya sudah memasang jaring-jaring yang kuat dan rapat.
Namun Mahisa Agnipun menjadi cemas, bahwa orang orang yang demikian benar-benar tidak akan mempunyai belas kasihan kepada siapapun juga. Usaha pembunuhan atas perempuan yang pernah menjadi isteri Pangeran Kuda Padmadata dan anak laki-lakinya itu tentu tidak akan dihentikan, sebelum perempuan dan anak laki-lakinya itu benar-benar mati.
“Tetapi apakah Pangeran Kuda Padmadata benar-benar tidak mengetahui akan rencana itu, atau justru ia telah menyetujuinya karena suatu penyesalan bahwa ia sudah kawin dengan seorang perempuan padesan dan mempunyai seorang anak laki-laki. Atau mungkin atas permintaan isterinya yang cantik dari katangan tataran yang sederajad atau mungkin, mungkin dan seribu macam kemungkinan.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia mempercepat langkahnya. Ia ingin segera sampai ke rumah KiDaredu dan menceriterakan hal itu kepada Witantra dan Mahisa Bungalan.
“Kita sudah melihat satu jalur” berkata Witantra ketika Mahisia Agni menceriterakannya tentang pekatik muda itu. Lalu “Ia tentu salah satu dari tangan orang yang ingin membunuh perempuan dan anak laki-lakinya itu”
“Kemungkinan terbesar adalah demikianlah” berkata Mahisa Agni “meskipun mungkin hal itu dilakukan karena ia menjadi sakit hati, bahwa aku telah diterima bekerja bersamanya”
“Ya, tetapi kemungkinan yang pertamalah yang terbesar” berkatalah Mahisa Bungalan.
“Aku sependapat” sahut Mahisa Agni “tetapi akupun harus memperhitungkan dan menilai semuanya sebaik-baiknya tanpa didorong oleh sekedar prasangka dan ketergesa-gesaan”
“Pamanmu harus berhati-hati” berkata Witantra ambil tersenyum “jangan sampai ia menunjuk sasaran yang salah”
Mahisa Agnipun tersenyum pula sambil berkata “Apakah anak-anak muda tidak telaten lagi bekerja seperti kita yang tua-tua ini“
Mahisa Bungalanpun tersenyum pula. Katanya “Tetapi itu tidak berarti bahwa aku tidak berhati-hati dan memperhitungkan segala kemungkinan paman”
Mahisa Agni dan Witantra tertawa. Namun dalam pada itu Mahisa Agnipun berkata “Kakang Witantra, apakah tidak Sebaiknya kita berterus terang kepada Ki Daredu, sehingga jika terjadi sesuatu, ia tidak menjadi sangat terkejut. Mungkin orang-orang itu akan Mengambil sikap lebih keras lagi pada suatu saat”
Witantra mengangguk-angguk. Iapun sebenarnya sudah memikirkan apakah yang sebaiknya dilakukan atas Ki Daredu. Jika ia tidak mengetahui sama sekali, apa yang dikerjakan oleh Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan, maka pada suatu saat ia akan manjadi terkejut sekali, dan bahkan mungkin akan dapat mengganggunya ketenangan hidupnya sekeluarga.
“Tetapi kitapun harus berhati-hati“ berkata Witantra “mungkin terasa terlalu lamban. Tetapi kita harus menyakinkan Ki Daredu bahwa yang kita lakukan akan bermanfaat bagi Pangeran Kuda Padmadata sekeluarga. Dan bahkan mungkin akan mencakup lingkungan yang lebih luas dari satu jaringan kejahatan yang akan menjalar di seluruh Kediri”
“Tetapi masalah ini lebih banyak berkisar pada masalah keluarga ini saja paman” sahut Mahisa Bungalan.
“Ya” jawab Witantra “namun mereka telah berhubungan dengan banyak pihak. Karena itu, mudah-mudahan Ki Daredu dapat mengerti dan tidak berkeberatan, justru akan membantu kita sejauh dapat dilakukan”
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Ia memang melihat kemungkinan bahwa jaring-jaring kejahatan ini benar-benar sudah masuk ke dalam satu lingkungan yang mempunyai pengaruh yang kuat. Bahkan tidak mustahil, bahwa sebenarnyalah yang terjadi di dalam lingkungan keluarga Pangeran Kuda Padmadata itu sekedar bayangan dari kekuasaan kejahatan.
Karena itu, maka merekapun telah bersepakat untuk mengatakannya kepada Ki Daredu, meskipun Ki Daredu untuk seterusnya diharap agar berpura-pura tidak mengetahuinya.
Ketika Ki Daredu mendengar keterangan itu, maka wajahnyapun menegang. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian iapun mengangguk sambil berkata “Itulah agaknya, aku melihat beberapa perubahan telah terjadi d! dalam istana Pangeran Kuda Padmadata, meskipun tidak begitu jelas. Hamba melihat beberapa orang baru di dalam lingkungan mereka. Hamba melihat perubahan yang samar-samar pada kebiasaan Pangeran itu. Ia tidak lagi sering nampak berjalan-jalan sambil menuntun seekor macan kumbang yang masih sangat muda”
“Apakah para hambanya yang sudah lama berada di istana itu tidak melihat perubahan itu, sedangkan kau yang tidak menghambakan diri kepada Pangeran itupun sempat melihatnya”
“Justru kepada hamba-hambanya mungkin Pangeran itu dapat memberikan beberapa keterangan sehingga tidak menumbuhkan persoalan bagi mereka” jawab Ki Daredu.
“Menarik sekali” gumam Witantra “karena kau memang harus menjadi sangat berhati-hati”
“Ya” desis Mahisa Agni “ada seribu kemungkinan yang telah terjadi”
Dalam pada itu Ki Daredu berkata “Tuanku, jika hamba dapat membantu apapun yang harus hamba lakukan, hamba akan bersedia, karena justru hamba telah mengenal tuanku”
Mahisa Agni tersenyum Katanya “Pada saatnya mungkin aku sangat memerlukanmu”
Ternyata Ki Daredu justru telah menyatakan kesediaannya untuk berbuat apa saja. Ia yakin bahwa maksud Mahisa Agni dan Witantra yang pernah berada di Kediri itu tentu bukan maksud yang buruk.
Demikianlah, maka dihari berikutnya, Mahisa Agni telah datang ke istana Pangeran Kuda Padmadata. Dengan wajah yang kecut ia memandang pekatik muda yang telah lebih dahulu duduk di sebelah kandang.
“Jangan banyak tingkah” desis pekatik muda itu. Mahisa Agni memandanginya sejenak. Namun iapun kemudian mengangguk sambil berdesis perlahan “Aku akan menyabit rumput”
Pekatik muda itu tidak menjawab.
Ternyata bagi Mahisa Agni telah disediakan segala keperluannya. Tanpa banyak berbicara, Mahisa Agnipun kemudian menjinjing keranjang dan sabitnya menuju ke padang rumput bersama pekatik muda yang telah lebih dahulu bekerja di istana itu.
Di sepanjang jalan, ternyata pekatik muda itu masih saja menakut-nakuti. Dengan garang ia menggeram “Kakek tua, kau harus menyadari kedudukanmu. Kau membuat aku kecewa karena kau telah bekerja di sini, sehingga dengan demikian kesempatan kesempatan bagi kawanku itu telah hilang”
“Jika demikian, aku akan mengajukannya kepada Ki Jurasanta, bahwa kesempatan itu seharusnya diberikan kepada kawanmu” jawab Mahisa Agni.
“Aku sobek mulutmu” geram anak muda itu “semuanya sudah terlanjur. Kau kira Ki Jurasanta akan mendengar alasan itu? Ia justru akan marah kepadaku. Orang tua itupun pada suatu saat harus dibungkam. He!, jangan berbuat sesuatu yang dapat mengurangi umurmu. Kau kira sabitku ini tidak dapat aku pergunakan untuk menggorok lehermu?“
“Ah“ Mahisa Agni berdesis. Tetapi diluar sadarnya iapun mengamat-amati sabitnya sendiri.
“Kau akan melawan he? Kau menganggap bahwa karena kau juga membawa sabit, maka kau tidak gentar menghadapi aku?“ bentak anak muda itu.
“Tidak. Bukan begitu“ Mahisa Agni menjauh “aku tidak berpikir begitu”
“Kenapa kau mengamat-amati sabitmu pula?“ bertanya anak muda itu.
“Aku tidak tahu, kenapa aku berbuat begitu” jawab Mahisa Agni.
Anak muda itu terdiam sejenak. Tetapi wajahnya nampak gelap, dan sikapnya memang menakutkan. Tetapi anak muda itu justru telah menarik perhatian Mahisa Agni. Ia merasa beruntung, bahwa ia mendapat kesempatan bekerja bersama anak muda yang agaknya darahnya masih cepat mendidih.
Di hari pertama. Mahisa Agni tidak mendapat kesulitan apa-apa. la bekerja dengan sungguh-sungguh bersama pekatik muda yang nampaknya juga seorang yang rajin. Ia mematuhi segala petunjuk Mahisa Agni. Ia mempergunakan sabitnya seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni. Pekatik itu benar-benar belajar dengan sungguh-sungguh.
Namun setiap kali anak muda itu mengumpat bahkan mengancam sehingga Mahisa Agni menjadi canggung karenanya.
“Jangan menunjukkan sikap yang dapat mencekik lehermu. Berbuatlah sewajarnya. Kau harus menberi aku petunjuk-petunjuk untuk menyabit rumput. Jika kau gila, aku akan menyabit lehermu sampai putus di padang ini “
Mahisa Agni benar-benar tidak berbuat sesuatu. Ia melakukan apa yang dikatakan oleh anak muda itu.
Dihari pertama Mahisa Agni telah menyabit rumput sampai tiga rambahan. Meskipun keranjang anak muda itu tidak sepenuh keranjang Mahisa Agni, namun pekatik muda itupun melaksanakannya sebanyak yang dilakukan oleh Mahisa Agni pula, sehingga kuda-kuda di istana Pangeran Kuda Padmadata itu tidak akan kekurangan rumput lagi.
Dua tiga hari berlalu tanpa perubahan. Mahisa Agni masih tetap mengajari anak muda itu menyabit. Anak muda itupun masih saja selalu mengumpat dan menakut-nakutlnya.
Namun yang tiga hari itu telah memberikan lebih banyak lagi gambaran tentang istana Pangeran Kuda Padmadata.
“Aku tidak boleh berlama-lama” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya “Mahendra tentu menjadi gelisah. Mungkin ia mempunyai dugaan yang mencemaskan”
“Tetapi Mahisa Agnipun sadar, bahwa ia tidak boleh tergesa-gesa. Di Istana itu terdapat banyak orang yang mengawasi lingkungannya. Sementara Mahisa Agni masih harus mencari keterangan tentang hubungan antara Pangeran itu dengan isterinya yang ditinggalkannya.
Namun akhirnya Mahisa Agni mendapat kesempatan itu. Ketika ia berbaring di belakang kandang, diluar dugaan maka Ki Jurasantapun telah mendekatinya.
“Apakah rumput kuda itu sudah cukup?“ ia bertanya.
Mahisa Agnipun segera bangkit sambil menjawab dengan serta-merta “sudah Ki Jurasanta“
Ki Jurasanta mengangguk-angguk. Lalu ia bertanya pula “Kau sendiri? Dimana pemelihara kuda dan pekatik muda itu?“
“Ia baru saja pergi. Mungkin ke sungai atau ke warung. Anak itu masih sering singgah di warung kecil ini. Mungkin karena ia masih belum mempunyai tanggungan seorangpun juga, sehingga ia dapat mepergunakan uangnya sesuka hati”
Ki Jurasanta mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Kau harus membantu memelihara kuda itu baik-baik. Pangeran Kuda Padmadata adalah penggemar kuda yang teliti “
“Ya, ya. Agaknya Pangeran juga seorang pemburu, desis Mahisa Agni.
“Benar. Seorang pemburu biasanya seorang penggemar kuda, karena dengan kuda itulah ia mendapat kegembiraan yang setinggi-tingginya. Jika ia berhasil mengejar buruannya, maka seorang pemburu akan mendapatkan kepuasan tersendiri” berkata Ki Jurasanta.
“Aku akan membantu memelihara kuda itu” desis Mahisa Agni Namun iapun kemudian bertanya “Apakah Pangeran sakarang juga sering berburu?“
“Jarang sekali. Bahkan akhir-akhir ini tidak sama sekali. Pangeran nampak lesu dan kurang gairah” berkata Ki Jurasanta “agaknya ada perubahan yang terjadi atas dirinya”
“Perubahan?“ bertanya Mahisa Agni.
“Pangeran sering menyendiri. Ia tidak lagi suka bercanda dengan para pengiringnya, bahkan abdi-abdi kinasihnya tidak banyak lagi mendapat kesempatan untuk menghadap”
“Apakah ada yang dipikirkannya, atau ada satu peristiwa yang telah mengguncangkan perasaannya?“
“Nampaknya tidak pernah terjadi sesuatu” jawab Ki Jurasanta ”Tiba-tiba saja terjadi demikian”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih banyak lagi, agar tidak menarik perhatian, sehingga seseorang mencurigainya. Namun keterangan itupun merupakan bahan yang perlu mendapat pertimbangan dan pengamatan.
Segala yang diketahuinya, telah disampaikan oleh Mahisa Agni kepada Witantra dan Mahisa Bungalan. Namun dengan gelisah Mahisa Bungalan bertanya “Jadi apa kah yang dapat aku lakukan sekarang paman”
“Menunggu” jawab Mahisa Agni.
Witantra tersenyum melihat wajah Mahisa Bunqalan. Katanya “Menunggu memang pekerjaan yang paling menjemukan. Tetapi biasakanlah telaten menunggu. Akupun seperti yang kau lakukan”
Mahisa Agnipun tersenyum pula. Katanya “Aku akan berbuat sebaik-baiknya dan secepat-cepatnya”
Dihari berikutnya, untuk pertama kali Mahisa Agni melihat Pangeran Kuda Padmadata berjalan-jalan di halaman. Sambil melihat-lihat kebun bunganya, maka Pangeran itu sekali-kali singgah pula pada sangkar binatang pemeliharaannya sangkar seekor burung kecil, sampai ke kandang harimau lorengnya.
Dua orang pengiringnya dengan cermat mengikutinya dan memberikan beberapa keterangan yang diperlukan.
“Itukah Pangeran?“ bertanya Mahisa Agni kepada juru pemelihara kuda.
“Ya” jawabnya.
“Pengawalnya nampaknya setia sekali” desis Mahisa Agni.
“Itu adalah hamba-hamba baru di istana ini. Tetapi karena mereka pandai membawakan diri dan sesuai dengan keinginan dan kehendak Pangeran, maka mereka kini menjadi abdi kinasih”
Mahisa Agni tidak bertanya lagi, karena pekatik muda itupun mendekatinya. Ketika anak itu duduk di belakangnya ia berdesis perlahan-lahan “Kau melihat apa?“
“Itukah Pangeran?“ Mahisa Agni bertanya.
“Ya, itu Pangeran, jangan bertanya terlalu banyak agar mulutmu tidak aku sumbat dengan sabit”
Mahisa Agni terdiam. Ia tidak berani bertanya lagi. Namun dalam pada itu. matanya yang tajam segera melihat sesuatu yang agak ganjil. Pangeran Kuda Padmadata seolah-olah tidak lagi mempunyai kehendak apapun juga. Kedua pengiringnya itulah yang seakan-akan menentukan, kemana Pangeran itu harus pergi, dan untuk apa Pangeran itu melihat-lihat.
“Aneh” desis Mahisa Agni yang hanya melihat dari kejauhan.
“Apa yang kau lihat, sampai biji matamu akam meloncat” geram pekatik muda itu.
“Pangeran itu tampan sekali” desis Mahisa Agni dengan dungunya “pakaiannya menyilaukan. Berapa umurnya? Nampaknya ia masih muda”
Pekatik muda itu memandang Mahisa Agni dengan tajamnya. Namun kemudian ia melihat bibir Mahisa Agni tersenyum-senyum nampaknya. betapa dungu pekatik tua itu.
“Kau belum pernah melihat seorang bangsawan dari dekat?“ bertanya Pekatik muda itu.
“Belum. He, berapakah umurnya? Tidak lebih tua dari anakku” desis Mahisa Agni.
“Tua bangka. Tentu Pangeran itu masih sangat muda” geramnya.
“Tetapi, yang manakah isterinya?“ tiba-tiba saja Mahisa Agni bertanya, seolah-olah demikian saja tanpa sengaja meloncat dari bibirnya.
Pertanyaan itu ternyata tidak menarik perhatian pekatik muda itu. Bahkan ia menjawab “Di dalam. Isterinya cantik sekali. Tetapi iapun sering keluar seperti Pangeran itu sendiri”
“Tentu seperti bulan. Pangeran Kuda Padmadata seperti matahari” desis Mahisa Agni sambil tersenyum-senyum.
“Kau mulai menjadi gila” geram anak muda Itu “jika kau melihat betapa cantiknya puteri, maka kau akar benar-benar menjadi gila”
“Ah, kegilaan orang tua tidak akan berbahaya. Tetapi, apakah kau yang masih muda menjadi gila juga?“ bertanya Mahisa Agni.
Pekatik muda itu memandang juru pemelihara kuda yang telah bergeser menjauhinya. Kemudian ia menjawab “Aku memang ingin menyobek mulutmu. Pertanyaanmu tidak layak kau ucapkan”
“Eh, aku minta maaf” desisnya “aku hanya bergurau”
“Untunglah, gamel itu sudah menjauh. Jika gamel itu mendengarnya, maka ia tentu akan berpikir buruk meskipun kau hanya bergurau”
Mahisa Agnipun berpaling kepada pemelihara kuda yang sudah berada di sisi lain dari kandang itu. Katanya “Gamel itu rajin sekali. Apakah ia sudah lama menjadi juru pemelihara kuda?“
“Belum“ tetapi tiba-tiba pekatik muda itu menggeram “anak setan. Jangan bertanya tentang apa saja. Kau sudah melihat Pangeran, dan kau menjadi kebingungan, karena kau tidak mempunyai cukup perbendaharaan kata-kata untuk memujinya. Itu sudah cukup”
Mahisa Agni tidak menjawab lagi. Tetapi ia masih tetap tersenyum-senyum melihat Pangeran yang tampan itu. Kesan di wajahnya tidak berupah sama sekali ketika dadanya kemudian berdesir, melihat sikap kedua orang pengiringnya. Ketika Pangeran itu mencoba untuk memaksa berjalan terus, masuk ke kebun di belakang istana, make kedua orang pengiringnya itu telah menghambat langkahnya. Meskipun sambil terbungkuk-bungkuk namun Mahisa Agni dapat menangkap isyarat, bahwa kedua pengiringnya telah memaksa Pangeran Kuda Padmadata untuk kembali ke halaman depan.
Kesan yang ditangkap dari peristiwa itu, telah membuat uraian yang panjang di dalam hati Mahisa Agni. Demikian, ketika Mahisa Agni kemudian kembali ke rumah Ki Daredu, maka bersama Mahisa Bungalan dan Witantra, ia telah mencoba mengurai arti dari penglihatannya.
“Mahisa Agni” berkata Witantra “ternyata menurut pendapatku, Pangeran Kuda Padmadata bukan lagi seorang yang bebas menentukan sikap. Agaknya ia telah dikuasai oleh seseorang yang telah memaksakan kehendaknya atas Pangeran yang malang itu. Dengan tidak diketahui oleh orang lain, maka seseorang telah menempatkan orang-orangnya di istana itu, dan sekaligus menguasainya”
“Pangaran itu telah kehilangan dirinya dan kebebasannya” sahut Mahisa Bungalan “agaknya ia perlu bantuan saseorang untuk membebaskannya”
“Aku sependapat” sahut Mahisa Agni “tetapi untuk melakukannya tentu bukan pekerjaan yang mudah. Di istana itu terdapat banyak sekali hamba yang ternyata pengawal-pengawal yang mengawasi Pangeran muda yang malang itu”
“jadi, apakah menurut pendapatmu Mahisa Agni” bertanya Witantra.
“Aku akan mengawasi keadaan semakin cermat. Aku akan melihat-lihat kemungkinan yang lebih baik untuk dapat berhubungan langsung dengan Pangeran itu”
“Tentu sulit sakali” berkata Witantra “kedua orang itu tidak akan melepaskan pengawasannya”
“Itulah yang akan aku lihat dengan cermat. Apakah kemungkinan untuk melakukannya itu ada” jawab Mahisa Agni.
Witantra mengangguk-angguk. Katanya “Terserah kepadamu. Mudah-mudahan kau menemukan jalan yang segera dapat kita tempuh“
Ternyata bahwa Mahisa Agnipun telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melakukannya. Bahkan ia sudah melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh pekatik yang manapun juga.
Disaat-saat senggang maka iapun telah membersihkan rumput di halaman belakang, sekaligus mengumpulkan rumput itu ke dalam keranjang.
“Kau telah melakukan satu kebodohan” bentak pekatik muda yang melihat tingkah lakunya” kau kira, yang kau kerjakan itu menguntungkan?“
“Tentu anak muda. Kita tidak usah pergi ke padang. Ternyata rumput di kebun ini tidak kalah segarnya. Apalagi dengan demikian, kebun ini akan nampak lebih bersih dan rapi” jawab Mahisa Agni.
“Kau memang pemalas. Kenapa kau tidak pergi ke padang?“ bertanya pekatik muda itu.
Tentu aku akan pergi. Tetapi cukup dengan dua rambatan saja. Sementara di kebun dan halaman yang luas ini, kita akan mendapatkan rumput satu keranjang penuh setiap hari. Hari ini di kebun belakang, besok di sisi kanan, lalu sisi kiri, halaman depan dan di taman” jawab Mahisa Agni “apakah itu bukan pikiran yang sangat bagus dari seorang pekatik tua?“
“Gila” geram pekatik muda itu. Tetapi iapun menganggap bahwa pikiran Mahisa Agni itu wajar, karena sebenarnyalah di kebun dan di halaman istana itu. terdapat banyak sekali rumput yang hijau segar diantara kebun bunga dan kebun buah-buahan di kebun belakang.
Namun dengan tingkah lakunya itu, Mahisa Agni telah berhasil mengawasi sebagian besar dari lingkungan istana, itu. Ia melihat dengan cermat dinding halaman dan pintu-pintu butulan. Dengan demikian maka Mahisa Agni dapat mengetahui, bagian manakah yang mendapat pengawasan kuat dari para pengawal di istana itu, dan yang manakah yang tidak sama sekali.
Tetapi Mahisa Agnipun tidak lengah, bahkan ia menyadari sepenuhnya, bahwa diantara juru taman, para pengawal dan lebih-lebih lagi para pengawal dalam, adalah orang-orang yang bertugas untuk mengawasi Pangeran Kuda Padmadata dan orang-orang yang berhubungan dengan Pangeran itu.
“Aku kira Pangeran itu tidak terlibat dalam usaha pembunuhan atas isteri dan anaknya“ berkata Mahisa Agni di dalam hatinya “mungkin ia mengetahui rencana itu, tetapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk mencegahnya”
Karena itulah maka Mahisa Agni telah bekerja keras untuk berusaha menghubungi Pangeran itu dengan cara apapun juga. Namun agaknya hal itu tidak mungkin dilakukannya. Kedua orang yang menjadi pengawalnya itu seakan-akan tidak pernah berpisah barang sekejappun.
“Bukan main“ gumam Mahisa Agni “suatu perbuatan yang tidak kepalang tanggung. Agaknya Pangeran Kuda Padmadata yang kaya itu seakan-akan sudah mati di dalam hidupnya. Ia menjadi tawanan tanpa dapat melawan sama sekali”
Tetapi Mahisa Agni tidak berputus asa. Ia masih berusaha untuk melihat segala sesuatu yang mungkin dapat dipakainya sebagai pancadan menemui Pangeran Kuda Padmadata.
“Apakah aku harus mempergunakan kekuasaan Maharaja di Singasari untuk memanggil Pangeran Kuda Padmadata“ sebuah pertanyaan telah memercik di hati Mahisa Agni.
Tetapi Mahisa Agni tidak dapat melakukannya, karena ia tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Jika cara itu ditempuh dan justru memperpendek umur Pangeran itu, maka ia akan terpercik oleh suatu kesalahan yanga tidak disengajanya.
Karena itu, Mahisa Agni tidak menempuh cara itu. Ia tidak minta kepada Maharaja di Kediri agar memanggil Pangeran Kuda Padmadata dan bertanya kepadanya, apa yang telah terjadi dengan keluarganya.
Ketika Mahisa Agni dihari berikutnya, sedang sibuk nencuci dan kemudian memotong rumput pendek dan mencampur dengan dedak dan sedikit air, ia sudah kejutkan oleh kehadiran seorang anak muda yang tampan dan bertubuh kekar. Wajahnya berseri sementara pakaiannya yang bagus dan dibeberapa bagiannya berbalut permata, menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang kaya raya pula.
“He, siapakah kesatria itu?“ bertanya Mahisa Agni yang di sebut Damar itu kepada juru pemelihara kuda.
“Ia adalah adik Pangeran Kuda Padmadata” jawab gamel itu.
“Adiknya. O, pantas sekali. Gagah, tampan dan nampaknya ia adalah seorang yang ramah“
“Tetapi ia adalah seorang anak muda yang keras” jawab gamel itu.
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Belum lagi ia habis memuji, maka terdengar derap seekor kuda yang lain memasuki halaman. Kemudian Mahisa Agni melihat beberapa emban yang turun dari pintu samping berlari-lari lewat seketeng ke halaman depan.
“Apa yang terjadi?“ bertanya Mahisa Agni.
“Tuan puteri telah datang” jawab gamel itu.
“Tuan puteri, isteri Pangeran Kuda Padmadata?“ bertanya Mahisa Agni.
“Dari mana?“
“Dari rumah ayah bundanya. He, bukankah kau tau bahwa ia masih saja mondar-mandir dari rumah orang tuanya ke istana ini. Ia biasanya datang diantar oleh adik Pangeran Kuda Padmadata.
“Apakah aku boleh melihat?“ bertanya Mahisa Agni.
“Apa yang kau lihat? Itu tuan puteri. Kenapa kau tiba-tiba saja ingin melihat” bertanya juru pemelihara kuda itu.
“Bukankah aku belum pernah melihat. Menurut keterangan, puteri itu jarang sekali keluar. Aku kira ia berada di istana ini. Kenapa tiba-tiba saja ia baru datang”
Gamel itu tersenyum. Katanya “Kau tidak pernah melihat puteri itu keluar. Dan sekarang kau lihat puteri itu datang dengan tandu dari rumah ayah bundanya. Kenapa kau tidak bertanya, kapan puteri itu berangkat?“
“Ya, kapan?“
“Kemarin sore, ketika kau sudah kembali ke rumah Daredu”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi seolah-olah diluar Sadarnya iapun kemudian berjalan ke seketeng. Dari regol ia melihat, seorang puteri yang turun dari sebuah tandu yang dipajang dengan kain berwarna cerah.
Gamel itu mengikutinya di belakangnya. Ia tersenyum melihat wajah Mahisa Agni yang aneh.
“Kau benar-benar orang padesan yang paling dungu. Kenapa kau menjadi begitu heran melihat tuan puteri”
“Ia naik tandu yang bagus sekali. Apakah tandu itu dibuat dari emas?“
“Sebagian. Tidak seluruhnya” jawab juru pemelihara kuda itu.
Mahisa Bungalanpun kemudian melihat beberapa emban telah melayani puteri itu turun. Kemudian mereka mengikutinya naik ke pendapa. Yang berada di pendapa bukannya Pangeran Kuda Padmadata, tetapi adiknya, seorang anak muda yang tampan dan gagah sekali.
Namun tiba-tiba saja Mahisa Agni bertanya “Kenapa Pangeran Kuda Padmadata tidak menyambut kedatangan isterinya?“
“Tentu, tetapi ia menyambut di ruang dalam, di depan sentong tengah”
“O“ Mahisa Agni mengangguk-angguk. Namun tidak bertanya lebih banyak lagi ketika ia melihat pekatik muda itu datang mendekatinya.
“Kenapa kau disini setan!“ geram pekatik muda itu.
Jawaban Mahisa Agni benar-benar tidak diduga-duga oleh pekatik muda itu. Katanya “He, apakah kau tidak melihat? Tandu yang bagus sekali. Seorang puteri yang sangat cantik dengan pakaian yang belum pernah aku lihat. He. apakah yang dipakai di lengannya itu”
“Gila” geram pekatik muda itu “kau benar-benar orang dungu. Kau belum parnah melihat kelat bahu?“
“Gadis-gadis padesanku juga memakai binggel. Tetapi dari akar-akaran. Sedangkan binggel puteri itu terbuat tentu dan emas”
“Kau sempat melihat binggelnya pula?“
“Ya. Ketika puteri itu turun dari tandu, kainnya tersingsing sampai di atas mata kaki, sehingga binggelnya kelihatan”
“Gila. Kau orang tua yang tidak tahu diri” Tetapi pekatik muda itu tidak dapat marah lagi, karena yang dilihatnya adalah wajah Mahisa Agni yang dungu, bodoh dan sama sekali tidak dibayangi oleh maksud-maksud apapun juga.
“Sudahlah” berkata pekatik muda itu “jangan terlalu berterus terang tentang kedunguanmu. Kembalilah ke kandang. Atau barangkali sudah saatnya kita pergi ke padang”
Mahisa Agni masih memandang tandu yang kemudian disingkirkan masuk ke seketeng sebelah lain dan disimpan di ruang yang khusus. Dalam sebuah bangsal yang berhubungan dengan bangsal penyimpanan pusaka dan benda-benda berharga dari istana Pangeran Kuda Padmadata itu.
Mahisa Agni tidak tahu lagi, apa yang terjadi di dalam ruang dalam. Tetapi Mahisa Agni mulai membayangkan, bahwa Pangeran Kuda Padmadata itu tidak dapat berbuat apapun lagi atas kehendaknya sendiri. Dan iapun mulai curiga, bahwa isterinya itupun bukannya seorang puteri yang setia.
“Dua orang yang nampaknya sebagai pengawalnya yang setia, adiknya yang tampan dan puteti yang cantik itu agaknya bagaikan sebuah penjara besi berlapis tiga yang sangat kuat dan tidak akan mungkin dapat dipecahkannya dengan kekuatannya sendiri” berkata Mahisa Agni di dalam hati.
Namun dengan demikian, maka Mahisa Agni berketetapan untuk segera berbuat sesuatu. Jika tidak mungkin dengan kekuatannya sendiri bersama Witantra dan Mahisa Bungalan, maka ia tidak akan segan-segan untuk minta pertolongan Panji Kudasuwana.
Tetapi agaknya Mahisa Agni masih ingin membatasi usahanya tanpa mengganggu kekuasaan Singasari di Kediri.
Atas persetujuan Witantra dan Mahisa Bungalan, maka mereka bertiga, pada malam hari berikutnya, telah mendekati istana Pangeran Kuda Padmadata. Dengan pengenalannya, maka Mahisa Agni telah berusaha untuk memasuki istana itu, sementara Witantra dan Mahisa Bungalan harus berjaga-jaga diluar dinding, bersembunyi dibalik rimbunnya gerumbul-gerumbul perdu.
Sebagaimana yang telah dikenalnya, maka Mahisa Agni telah memasuki halaman istana itu lewat bagian belakang, di bagian yang tidak terlalu ketat mendapat pengawasan.
Dengan kemampuannya yang hampir sempurna, maka Mahisa Agni berhasil memasuki halaman. Dengan hati-hati ia merayap mendekati bangunan istana yang cukup besar. Dengan pasti ia tahu, yang manakah bilik tidur Pangeran Kuda Padmadata meskipun ia belum pernah memasuki istana itu. Tetapi dengan tidak langsung ia mendapat gambaran dari pembicaraan-pembicaraan yang nampaknya tidak sengaja dan tanpa arah.
Dengan sangat hati-hati pula Mahisa Agnipun kemudian meloncat naik keatas atap. Dengan mengerahkan kemampuannya, iapun merambat dengan lambat sekali melampaui bumbungan. Kemudian merangkak turun di antara dua bumbungan yang tinggi. Atap pendapa dan atap bagian dalam istana Pangeran Kuda Padmadata.
Untuk beberapa saat Mahisa Agni menungggu. Dengan cermat ia mencoba mendengarkan, apakah dibawah atap itu masih terdengar suara satu dua orang yang sedang berbicara.
“Sepi” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya. Sejenak Mahisa Agni masih menunggu. Namun iapun kemudian mulai mencoba berbuat sesuatu. Dengan hati-hati ia merayap tepat di atas bilik pembaringan Pangeran Kuda Padmadata. Sekali lagi ia merapatkan telinganya untuk mendengar, apakah benar-benar orang di dalam istana itu sudah tidur.
Namun justru hatinya menjadi berdebaran. Sesaat kemudian ia mendengar suara lemah sekali “Aku akan tidur. Kau yang berjaga-jaga”
“Tidurlah” sahut suara yang lain “tetapi sampai kapan kita harus mengawalnya. Aku sudah mulai jemu berpura-pura menjadi budaknya”
“Kita belum tahu pasti, apakah perempuan dan anak laki-lakinya itu sudah terbunuh. Beberapa saat yang lampau mereka berhasil meloloskan diri. Seorang yang tidak dikenal telah membebaskannya dan bahkan kemudian berhasil menyembunyikan perempuan itu bersama anak laki-lakinya”
“Tetapi ia tidak akan dapat lepas dari jaring terakhir. Mereka akan diketumukan. Dan mereka akan mati. Barulah kita bebas dari tugas ini, karena semuanya menjadi gamblang. Pangeran yang malang itu akan mendapat kecelakaan. Warisannya akan jatuh ke tangan isterinya yang cantik itu, karena ia adalah satu-satunya keluarganya. Tentu saja adik laki-lakinya itupun akan terlibat dalam pembagian warisan, meskipun sebenarnya hal itu tidak diperlukan benar secara resmi dilakukkan”
“Namun waktu telah berlarut-larut. Dan kita belum mendengar beritanya”
“Tidurlah. Aku akan menungguinya”
Sejenak kemudian menjadi sepi kembali. Tetapi Mahisa Agni sudah mendapat gambaran, bahwa ia tidak akan dapat berbuat banyak seandainya ia berhasil memasuki istana itu, Karena di dekat bilik itu. seseorang telah menjaganya dengar cermat. Sementara di sekitar istana itu, beberapa orang pengawal beringas dengan senjata telanjang. Sebuah perintah yang d serahkkan oleh salah seorang dari mereka yang menungguinya itu berarti, seluruh pengawal yang berada di halaman itu akan bersiap dan mengepungnya.
“Itu tentu kurang baik” berkata Mahisa Agni di dalam hati “mungkin aku akan dapat meloloskan diri. Tetapi akibati ya akan menimpa Pangeran yang malang itu.
Namun tiba-tiba saja Maiisa Agni mendapat pikiran yang lain. Ia akan memberikan kesan yang berbeda dari para pengawal. Jika ada orang yang melihatnya, maka in tidak lebih dari seorang pencuri yang menginginkan harta Pangeran Kuda Padmadata yang berlimpah.
Karena itu maka Mahisa Agnipun bergeser pula. Ia tidak lagi berada di atas bilik Pangeran yang kaya itu, tetapi kehilangan dirinya itu.
Dengan hati-hati, Mahisa Agni telah membuka bumbungan di atas dudur samping. Dengan sangat berhati-hati. Kemudian iapun perlahan-lahan membuka raguman. Kekuatan Muhisa Agni adalah kekuatan yang luar biasa, sehingga dengan jari-jarinya ia telah berhasil memutus tali-tali ijuk pada atap rumah Pangeran Kuda Padmadata yang kuat itu.
Kemampuan Mahisa Agni memang berlebihan, jika ia sekedar ingin melakukan pencurian. Segalanya dapat dilakukan tanpa menimbulkan bunyi apapun juga. Sehingga akhirnya atap istana itupun telat terbuka, sehingga cukup luas untuk menyusup masuk ke dalam.
Dengan sangat hati-hati, Mahisa Agnipun kemudian meloncat turun. Kakinya bagaikan kaki seekor kucing yang liat dan sama sekali tidak menimbulkan bunyi apapun. Dengan demikian, maka orang yang menunggui Pangeran Kuda Padmadata di dalam ruang di sebelah bilik Pangeran itu, sama sekali tidak mendengarnya.
Ruang itu memang sepi. Mahisa Agni telah berhasil memasuki sebuah ruang yang tidak begitu luas. Tetapi ruang itu adalah ruang yang sangat mahal, karena di dalam ruang itu tersimpan beberapa bagian perhiasan Puteri yang cantik itu.
Meskipun perhiasan yang tersimpan di dalam sebuah peti yang terletak di dalam geledeg kayu itu hanyalah sebagian dari perhiasannya yang dipakainya sehari-hari, sementara perhiasannya yang lebih mahal lagi disimpan di bangsal perbendaharaan, namun barang-barang itu mempunyai nilai yang cukup tinggi.
Sejenak Mahisa Agni termangu-mangu. Di sebelah ruang itu adalah bilik pembaringan puteri. Diantarai oleh sentong tengah, maka terdapat bilik tempat tidur Pangeran Kuda Padmadata. Sedang di bilik berikutnya, yang menghubungkan rumah induk dengan gandok, terdapat orang-orang yang mengawal Pangeran Kuda Padmadata.
Sejenak Mahisa Agni termangu-mangu. Ia sadar, bahwa di sebelah bilik itupun tentu terdapat ruang satu atau dua orang pengawal. Karena itu, maka iapun harus berhati-hati.
Dengan perlahan-lahan akali, Mahisa Agnipun kemudian membuka peti yang tersimpan di dalam geledeg itu. Diambilnya beberapa buah perhiasan yang mahal. Kemudian dibawanya perhiasan itu meninggalkan ruangan.
Dengan loncatan yang ringan Mahisa Agni berhasil menggapai dudur atap istana itu di tempat yang telah dibukanya. Lewat lubang saat ia meluncur masuk, maka iapun telah menyusup keluar.
Sejenak Mahisa Agni menunggu. Sejenak, maka iapun mulai merangkak ke bibir atap.
Ketika ia merasa aman, maka iapun segera meloncat turun. Dibawah teritisan. ia meninggalkan sebuah perhiasan yang diambilnya. Kemudian, ketika ia berlari sambil membungkuk-bungkuk ke kebun di belakang istana itu, maka iapun telah melepaskan sebuah perhiasan lagi. Demikian pula ketika ia sampai di dinding belakang. Ia telah meletakkan satu lagi perhiasan itu, tetapi tidak tepat di tempat ia meloncat naik. Sehingga dengan demikian, maka ia tidak meninggalkan bekas di tempat yang sebenarnya.
Ketika Mahisa Agni telah berada diluar, maka iapun segera menemui Witantra dan Mahisa Bungalan. Nampaknya Mahisa Bungalan telah tidak sabar lagi menunggu
“Ia hampir saja menyusulmu” desis Witantra. Mahisa Agni tersenyum. Katanya “Untunglah bahwa kau belum melakukannya”
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi sebenarnya lah ia telah menjadi gelisah dan tidak telaten menunggu. Mahisa Agnipun kemudian menceriterakan apa yang dialaminya dalam perjalanan mereka kembali ke rumah Ki Daredu.
“Memang sulit“ gumam Witantra “jika kau datang kembali di malam-malam berikutnya, maka keadaannyapun akan serupa. Kau tidak akan dapat menjumpai Pangeran itu tanpa pengawasan”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia bergumam “Apakah tidak ada jalan lain kecuali menghubungi Panji Kudasuwana“
“Itu adalah jalan yang dapat segera ditempuh” sahut Mahisa Bungalan.
“Tetapi apakah jalan itu tidak berbahaya bagi Pangeran Kuda Padmadata itu sendiri” desis Mahisa Agni.
“Kita harus tegas. Pangeran Kuda Padamadata harus dengan tiba-tiba dipisahkan dari orang-orang yang mengelilinginya” geram Mahisa Bungalan “kemudian Pangeran itu dipertemukan dengan isteri dan anaknya yang terpisah daripadanya itu”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi iapun sedang berpikir keras, apakah yang sebaiknya dilakukan.
Dalam pada itu, ketika seorang penjaga istana Pangeran Kuda Padmadata yang sedang meronda, terjaga dari tidurnya oleh kokok ayam dipagi hari, maka iapun segera berbenah diri. Kawannya yang lain telah lebih dahulu terbangun dan sebelum meninggalkan tugasnya, lebih dahulu dilihatnya ruang di sebelah. Tetapi nampaknya pintu masih tertutup, sehingga ia tidak memperhatikannya lebih lama lagi.
Kedua orang penjaga itupun kemudian meninggalkan bilik tempatnya bertugas. Disiang hari, tempat itu tidak ditunggui oleh seorang pengawalpun.
Setelah kedua pengawal itu melaporkan diri ke gardu induk bagi para pengawal di dalam istana Pangeran Kuda Padmadata itu, maka merekapun segera meninggalkan halaman istana kembali ke rumah masing-masing. Mereka mendapat kesempatan untuk berada di antara keluarganya pada hari-hari tertentu setelah mereka menjalankan tugas sepekan penuh.
Namun agaknya pada malam terakhir dari tugas mereka, istana itu telah digemparkan oleh kenyataan, bahwa atap di atas bilik penyimpanan perhiasan isteri Pangeran Kuda Padmadata telah terbuka.
Seorang pelayan dalam yang akan membersihkan bilik itu terkejut ketika dilihatnya bilik itu nampak tidak seperti biasanya. Beberapa jenis perabotnya berserakan, dan ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya cahaya yang jatuh dari atap yang sudah berlubang.
Sambil berteriak pelayan itu berlari ke gardu para pengawal. Dengan suara terbata-bata ia melaporkan apa yang telah dilihatnya.
Sejenak kemudian, istana itu menjadi gempar. Para pengawal menjadi sangat sibuk, sementara dengan tegas pemimpin pengawal itu berteriak “Panggil kedua pengawal yang bertugas di bilik ini semalam”
Namun dalam pada itu, kegemparan telah terjadi.
Dalam kesibukan itu, Mahisa Agni sebagai seorang pekatik telah memasuki halaman. Tidak seorangpun yang menghiraukannya. Para pengawalpun tidak. Tidak seorangpun yang akan menghubungkan peristiwa yang menggemparkan itu dengan seorang pekatik tua yang berjalan tertatih-tatih sambil membawa keranjang dan sabit.
Adalah suatu kebetulan, bahwa pekatik muda yang selalu mengawasinya tidak berada di kandang. Seperti pata abdi yang lain, mereka telah berkerumun di sekitar pintu butulan. Karena itu, maka Mahisa Agnipun telah ikut pula mendekat dan berdiri di antara para hamba yang lain.
“Apa yang telah terjadi” bertanya Mahisa Agni kepada seorang juru taman.
“Ada seorang atau lebih pencuri yang memasuki bilik itu” desis juru taman.
“O“ Mahisa Agni terkejut Tetapi ia tidak berkata apapun lagi.
Namun dalam pada itu, kegemparan yang lain telah terjadi. Seorang pengawal telah menyentuh seuntai berlian di bawah teritisan. Hampir terpekik ia berkata “Aku menemukannya”
Para pengawalpun segera mengerumuninya. Sebenarnyalah bahwa ia telah menggenggam satu dari perhiasan yang hilang dari bilik itu.
Tetapi kegemparan berikutnya telah terjadi pula. Orang lain telah menemukan perhiasan yang lain di balik tananam perdu. Kemudian disusul oleh yang lain lagi. Dengan demikian, maka para pengawalpun telah mengikuti arah dari barang-barang yang ditemukan itu. Agaknya barang-barang itu telah terjatuh ketika pencurinya melarikan diri.
Sejenak kemuadian para pengawalpun telah sibuk meneliti semua keadaan di sepanjang jalur yang telah ditemukan sebagai jejak dari arah yang ditempuh oleh pencuri yang telah berhasih memasuki bilik itu.
Pada saat yang sibuk dan tegang itu, isteri Pangeran Kuda Padmadata berada di dalam biliknya ditunggui oleh seorang emban dan adik Pangeran Kuda Padmadata. Bagaimanapun juga peristiwa itu telah menggetarkan jantungnya, sehingga ia menjadi ketakutan dan berdebar-debar.
“Jangan cemas“ adik Pangeran Kuda Padmadata itu berusaha untuk menenangkan “tidak terjadi apa apa. Pencuri itu memang gila. Tetapi yang berhasil dibawa tentu tidak berarti sama sekali” ia berhenti sejenak, lalu “cobalah kau tenangkan hatimu, kemudian kau sempatkan sejenak untuk melihat, apa saja yang telah hilang”
Isteri Pangeran Kuda Padmadata itu tidak menjawab Tetapi ia berusaha untuk menenangkan dirinya barang sejenak.
Sementara itu, selagi para pengawal sibuk meneliti keadaan dan dua orang pengawal khusus itupun sedang berusaha melihat dengan teliti apa yang telah terjadi, Pangeran Kuda Padmadata sendiri berdiri termangu-mangu di pintu butulan. Bahkan iapun kemudian turun ke halaman belakang untuk melihat para pengawal yang sedang memperhatikan arah dari jejak pencuri yang telah berhasil memasuki istana.
Kesempatan yang tidak mungkin dapat dilewatkan oleh Mahisa Agni. Saat yang sekejap itu benar-benar berharga bagi Mahisa Agni. Adalah jarang sekali terjadi bahwa Pangeran Kuda Padmadata telah terpisah dari dua orang pengawal khususnya.
Pada saat Pangeran itu sedang merenungi orang-orang yang sedang diributkan oleh peristiwa itu, maka Mahisa Agnipun menyusup kesamping dan berjalan terbungkuk-bungkuk lewat di belakang Pangeran Kuda Padmadata. Saat yang sangat berharga itu telah dipergunakannya sebaik-baiknya. Tepat di belakang Pangeran itu ia berdesis perlahan-lahan “Hamba adalah petugas sandi dari Singasari yang ingin mengetahui keadaan Pangeran yang sebenarnya”
Mahisa Agni sama sekali tidak berhenti. Ia berjalan terus, dan menyusup lagi diantara orang-orang yang berkerumun.
Sekilas Kuda Padmadata berpaling. Ia melihat Mahisa Agni yang berhenti beberapa langkah dari padanya diantara beberapa hambanya yang kemudian didorong oleh para pengawal untuk menyingkir.
“Pergi, jangan mengganggu tugas kami. Kembali kepada perkejaan kalian masing-masing. Biarlah kami yang mengurusi masalah ini” teriak pemimpin pengawal.
Ketika para hamba istana itu kemudian melangkah surut karena mereka didesak oleh para pengawal, Pangeran Kuda Padmadata masih dapat mengenali Mahisa Agni yang berdiri diantara mereka.
“Siapakah orang itu?“ pertanyaan itu telah tumbuh di dalam hatinya. Demikian banyak abdi di halaman Istana itu, hingga Pangeran itu tidak mengenalnya seorang demi seorang.
Namun Pangeran yang telah kehilangan kebebasannya itu sempat mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Mahisa Agni.
Dalam pada itu, maka ketika dua orang pengawal yang bertugas di bagian dalam istana, dan berada di sebelah bilik yang telah berhasil dimasuki oleh seorang pencuri atau lebih itu datang, perhatian pimpinan pengawal tertuju sepenuhnya kepada mereka. Dengan tegang ia memerintahkan kedua orang itu masuk ke dalam bilik yang khusus untuk didengar keterangannya.
Ternyata kedua pengawai itu terkejut bukan kepalang Mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa bilik itu telah terbuka di bagian atapnya dan seorang pencuri telah berhasil mengambil beberapa buah barang perhiasan.
Sehari penuh para pengawal meneliti segala macam jejak yang mungkin dapat mereka ketemukan. Bukan saja di dalam halaman, tetapi juga diluar halaman.
Namun dalam pada itu, mereka sama sekali tidak menemukan sesuatu. Tidak ada bekas atau jejak yang dapat mereka pergunakan untuk mencari jalur yang dapat membawa mereka kepada suatu dugaan, siapakah yang telah menghina para pengawal istana Pangeran Kuda Padmadata itu.
Ketika kemudian isteri Pangeran itu sudah menjadi agak tenang dan berhasil melihat dun menyebut barang-barangnya yang hilang, ternyata bahwa sebagian dari barang-barang itu telah dapat diketemukan kembali. Hanya sebagian kecil sajalah dari perhiasan itu yang tidak diketemukan.
“Pencuri itu tentu dalam keadaan tergesa-gesa” berkata adik Pangeran Kuda Padmadata.
Tetapi ini benar-benar suatu penghinaan” berkata Pangeran Kuda Padmadata.
Namun seorang dari kedua pengawalnya yang terdekat itupun berkata “Ampun Pangeran. Biarlah para pengawal mengurusnya. Jika ini suatu penghinaan, maka para pengawallah yang paling merasa terhina”
“Ya, tetapi bukankah kita dapat berusaha untuk mencari jejaknya. Meskipun seandainya tidak dapat diketemukan” berkata Pangeran itu.
“Pangeran tidak perlu berbuat sesuatu. Kami menganggap bahwa hal ini tidak usah disampaikan kepada siapapun juga. Juga tidak perlu didengar oleh para bangsawan, karena dengan demikian maka aib kita akan bertebaran sampai kemana-mana”
“Aku setuju” berkata Pangeran Kuda Padmadata “meskipun aku tahu latar belakang dari sikap kalian. Kalian tidak ingin selembar seratpun yang dapat menghubungkan istana ini dengan pihak luar”
“Kakanda tidak usah mengatakan hal itu” berkata adiknya “apa yang telah terjadi, biarlah terjadi. Kadang-kadang kita memang harus menyerah kepada nasib. Baik atau buruk”
“Aku tidak menyesali nasib. Tetapi aku tidak mau menerima penghinaan ini. Aku tidak tahu bagaimana tanggapan kalian” berkata Pangeran Kuda Padmadata.
“Lalu apa yang akan kakanda kerjakan?“ bertanya adiknya.
“Mungkin orang yang-memasuki bilik itu adalah salah seorang dari para pengawal kita sendiri, atau para abdi yang lain“ Pangeran itu berhenti sejenak, lalu “karena itu. aku ingin menemui mereka seorang demi seorang”
Kedua pengawalnya terdekat tertawa. Katanya “Suatu usaha yang sia-sia Pangeran”“
“Tidak. Aku tidak akan berusaha apapun juga bagi diriku sendiri. Kau berdua dapat mengikuti segala persoalan yang akan aku lakukan dalam penelitian ini”
Salah seorang dari kedua pengawal itu menyahut “Jangan memikirkan apapun juga. Pangeran adalah orang yang paling mukti di negeri ini. Tanpa berbuat apapun juga. Pangeran dapat menikmati hidup ini sepuas-puasnya”
Diluar sadarnya Pangeran Kuda Padmadata berpaling kearah isterinya. Namun yang terdengar adalah suara tertawa adiknya “Ia bukan isteri kakanda yang sebenarnya. Jika kakanda ingin menikmati hidup ini, lakukanlah. Tetapi tidak dengan puteri yang seorang ini”
Seisi ruangan itupun meledak dengan suara tertawa. Sementara puteri yang dalam dunia bayangan Pangeran Kuda Padmadata itu menjadi isterinya, menunduk dalam-dalam. Meskipun ia juga tersenyum, namun wajahnya menjadi merah padam.
“Ia adalah seorang isteri yang tugasnya hanyalah menerima warisan semata-mata” berkata adiknya “tidak dalam tugas-tugas yang lain”
Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam Namun katanya “Aku ingin bertemu dengan setiap orang di lingkungan istana ini. Siapapun boleh ikut mendengar apa yang akan aku tanyakan kepada mereka”
Kedua pengawal itu ragu-ragu. Namun ketika adik Pangeran itu mungungguk, maka salah dari seorang para pengawal itu berkata “Baiklah Pangeran. Hamba akan memanggil mereka seorang demi seorang”
Demikianlah maka semua hamba dan pengawal di dalam istana itu telah dipanggil seorang demi seorang memasuki sebuah bilik khusus. Disamping Pangeran Kuda Padmadata sendiri, maka di dalam bilik itu hadir pulu kedua pengawalnya yang paling dekat itu.
Seorang, demi seorang telah ditanya oleh Pangeran Kuda Padmadata. Siapakah mereka, dan apakah yang mereka lakukan dalam tugas mereka sebagai hamba.
halaman 39, 40, 41 dan 42 hilang
kemudian mengangguk-angguk setelah ia mendengar penjelasan yang diberikan oleh Mahisa Bungalan.
“Jadi anakku harus dititipkan ke dalam istana?“ bertanya Ki Wastu.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya “Itulah agaknya tempat yang paling aman baginya"“
“Tetapi anakku tentu akan merasa dirinya terlampau kecil dan tidak sepantasnya diperlakukan demikian. Ia adalah anak padukuhan kecil yang tidak berarti “ berkata Ki Wastu.
“Tetapi ia adalah isteri Pangeran Kuda Padmadata” jawab Mahisa Bungalan “pada suatu saat, jika Tuhan mengijinkan, ia akan berdiri di samping seorang bangsawan di Kediri”
Ki Wastu menarik nafas dalam-dalam. Terasa jantunjnya bergetar. Dengan suara yang dalam ia berkata “Apakah yang dapat aku ucapkan. Aku telah berhutang budi tanpa dapat diperhitungkan lagi. Kalian telah berbuat terlalu banyak, melampaui kewajiban sebagai sesama”
“Tidak” jawab Mahendra “yang kami lakukan barulah butir-butir debu yang tidak berarti sama sekali hadapan Tuhan Yang Maha Besar”
Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya. “Aku akan ikut serta ke Kediri. Bukan saatnya bagiku untuk duduk menunggu, sementara orang lain berjuang keluargaku. Bagi anak dan cucuku”
bersambung……